DI bawah lampu-lampu sorot Theatre du Chatelet, Paris, Oktober 2024, Rodrigo Hernandez Cascante dengan dibantu Didier Drogba, berjalan perlahan menggunakan kruknya untuk naik ke panggung dan menerima Ballon d'Or. 

Tubuhnya yang menjulang, tanpa satu pun goresan tinta tato, tampak asing di tengah estetika superstar sepak bola abad ke-21. 

Tak ada unggahan Instagram yang merayakan momen itu. Tak ada perancang busana pribadi yang mempromosikan pakaiannya di TikTok. Pria yang sedang jatuh ke lubang gelap akibat cedera ACL parah itu hadir dalam kesunyian analog.

Namun, 21 bulan setelah malam di Paris tersebut, setelah melakukan proses penyembuhan yang pelik, kruk itu menepi. Rodri berdiri begitu tegak di panggung tertinggi dunia. Dia memimpin Spanyol merengkuh Piala Dunia 2026, Piala Dunia kedua dalam sejarah La Roja.

Rodri menaklukkan puncak tertinggi sepak bola bukan dengan cara menjadi bagian dari budaya selebritas. Rodri menundukkan dunia dengan cara menjadi sangat biasa di luar lapangan. 

Fenomena kontras ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan manifestasi dari filosofi hidupnya.


Baca artikel penuh