TIDAK ada jas desainer mahal. Tidak ada gestur teatrikal yang meledak-ledak ke arah kamera. Tidak ada keangkuhan seorang neurotik yang merasa telah memecahkan algoritma sepak bola.

Lionel Sebastian Scaloni berdiri dengan tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, fokus, dan sering kali terlihat cemas. Matanya terus bergerak mengikuti bola dengan alis yang berkerut dalam. Seiring dengan pikirannya yang berkecamuk, Argentina melaju ke final Piala Dunia 2026, mengulangi pencapaian empat tahun lalu di Qatar.

Bagi publik Buenos Aires hingga Rosario, pencapaian ini terasa seperti mukjizat yang berulang. 

Empat tahun setelah malam magis di Stadion Lusail, Qatar, Scaloni membuktikan bahwa kejeniusannya bukanlah sebuah anomali atau kebetulan. Namun, Piala Dunia 2026 menuntut sesuatu yang sama sekali berbeda dari masa lalu. 


Baca artikel penuh