MALAM di Paris sering kali menjanjikan romansa. Akan tetapi di bawah lampu-lampu kantor Direction Nationale du Controle de Gestion (DNCG), romansa adalah barang mewah yang tidak terjangkau oleh akal sehat. 

Di ruangan-ruangan sunyi tempat angka-angka diperiksa dengan ketelitian seorang kurator forensik, sepak bola Prancis tidak sedang membicarakan keindahan roulade atau kecepatan Kylian Mbappe.

Mereka sedang menghitung sisa napas. Ada jam yang terus berdetak, tajam dan dingin, seperti bunyi guillotine yang siap jatuh pada leher klub-klub yang alpa menjaga neraca keuangan mereka.

Prancis adalah sebuah anomali yang megah. Sebuah teka-teki yang ditulis di atas rumput hijau dan kertas semen. Di satu sisi, jika Anda berjalan melintasi batas negara menuju kompetisi domestik mereka, Ligue 1, Anda akan menemukan sebuah peta  yang tampak seperti medan perang finansial yang luluh lantak.

Kegagalan demi kegagalan hak siar silih berganti menghajar Ligue 1. Roda finansial Ligue 1  patah sejak runtuhnya kontrak Mediapro senilai EUR 1,153 miliar pada 2020. Memasuki musim 2025-2026, situasinya kian getir. Kombinasi pendapatan dari platform Ligue 1+ dan beIN hanya menyentuh EUR 242 juta. Angka ini menciptakan lubang menganga hingga EUR 700 juta dalam kas kolektif liga.

Ketika kesepakatan dengan DAZN runtuh dan memicu penarikan pembayaran dan perang di ranah hukum akibat kegagalan target pelanggan serta gurita pembajakan, Ligue 1 bukan hanya tertinggal dari Premier League. Ligue 1 telah hidup di planet yang berbeda.

Namun, di sinilah paradoks itu lahir dan mencengkeram. Di saat klub-klubnya harus membalik setiap koin hanya untuk membayar tagihan listrik stadion, tim nasional Prancis berjalan dengan dagu terangkat. Mereka seolah mengenakan jubah kedigdayaan yang sulit ditandingi oleh negara mana pun di dunia saat ini.


Baca artikel penuh