ADA sejenis kehangatan ganjil dan pengap yang menyergap ketika melangkah keluar dari stasiun kereta Mataro. Awalnya, kita akan disuguhi pantai comarca Maresme yang bersolek untuk para pelancong. 

Tetapi jika berjalan terus, kita akan menemukan bukit biasa-biasa saja yang menuju wilayah pinggiran. Di sana, sekitar tiga puluh kilometer di timur laut kota Barcelona yang megah, bertengger sebuah kawasan padat yang dinamai Rocafonda.

Pada tempat itulah, di bawah bayang-bayang apartemen bergaya brutalist yang dibangun tergesa-gesa untuk menampung imigran pada 1960-an, takdir sepak bola modern Spanyol sedang ditulis ulang oleh sepasang kaki kurus seorang anak remaja.

Bagi mereka yang hanya menyaksikan sepak bola dari layar kaca, nomor pos 08304 mungkin hanyalah deretan angka acak yang kering. Namun, ketika Lamine Yamal Nasraoui Ebana menyilangkan sepuluh jarinya membentuk angka "3", "0", dan "4" setelah merobek jala gawang lawan, angka-angka itu bertransformasi menjadi sebuah maklumat politik. 

Yamal sedang melakukan tindakan reklamasi identitas yang luar biasa berani. Rocafonda, yang sepertiga penduduknya lahir di luar negeri dan setengah populasinya hidup di bawah garis kemiskinan, secara konsisten didemonisasi oleh partai sayap kanan Spanyol, Vox, sebagai estercolero multicultural alias tempat pembuangan sampah multikultural. 

Melalui selebrasi jemarinya, Yamal mengubah stigma marginal tersebut menjadi sebuah simbol identitas dan kebanggaan melalui panggung megah sepak bola dunia.


Baca artikel penuh