ADA semacam keganjilan ketika sebuah bakat besar memilih menepi dalam keheningan. Sepak bola modern hari ini adalah sebuah karnaval yang bising, sebuah industri pertunjukan ketika setiap gol dirayakan layaknya maklumat politik, dan setiap interaksi media sosial dikurasi dengan presisi demi menjaga kapitalisasi pasar.
Pemain sayap kelas dunia didorong untuk menjadi brand, aktor, sekaligus pembicara publik. Namun, di tengah riuh rendah pesta digital tersebut, Michael Akpovie Olise berdiri sebagai sebuah anomali yang memikat. Dia menjadi seorang pemberontak sunyi yang menolak ikut menari dalam orkestra komersialisasi.
Ketika Olise mencetak gol kemenangan dramatis untuk Crystal Palace melawan West Ham United pada November 2022 di menit ke-94, sebuah gol yang lahir dari ketenangan dingin di area penalti, ada harapan bahwa Olise akan melakukan selebrasi teatrikal atau luapan emosi yang membakar.
Tetapi reaksi Olise biasa-biasa saja. Ada senyuman. Tetapi tipis saja. Seolah-olah Olise baru saja menyelesaikan sebuah tugas reguler di kantornya. Wawancara pasca-pertandingannya kemudian menjadi salah satu fragmen unik dalam sejarah Premier League, sebuah interaksi sepanjang sebelas kata yang meremukkan pakem komunikasi sepak bola level dunia.
Baca artikel penuh
Komentar
Belum ada komentar.