TENDANGAN Ferran Torres yang melesat dalam kecepatan 102 km/jam untuk merobek gawang Emiliano “Dibu” Martínez pada menit ke-106, seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Argentina. 

Di sudut stadion, penyerang FC Barcelona itu melakukan gerakan tangan jibber-jabber, sebuah gestur kuping yang mendengarkan. Ini mungkin pesan bisu kepada para kritikus yang selama ini meragukan kapasitasnya. 

Namun, melampaui sekadar penebusan personal bagi Torres, gol itu adalah manifesto dari sebuah ide. Sebuah penegasan bahwa dalam sepak bola, tatanan logika, organisasi, dan keindahan kolektif pada akhirnya mampu menjinakkan permainan emosional yang destruktif.

Final Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai benturan budaya yang paling ekstrem sejak pertempuran Bilbao melawan Barcelona pada era 1980-an.

Di satu sisi, ada Spanyol asuhan Luis de la Fuente. Mereka adalah mesin sepak bola yang anggun, terorganisir, memakai otak, dan beroperasi dengan umpan-umpan yang presisi. 

Pada sisi yang lainnya, Argentina di bawah Lionel Scaloni merupakan tim berdarah panas yang performanya digerakkan oleh kultus spiritualitas terhadap sang megabintang, Lionel Messi. 

Akan tetapi, pada malam final di New York itu, Argentina akhirnya tergelincir menjadi karikatur teatrikal yang sinis, tidak simpatik, dan memalukan.


Baca artikel penuh