.
Share this Post:

Jalen Brunson, Metamorfosis Sang Pengendali Ritme

UDARA di Charlottesville pada bulan Agustus tidak pernah ramah. Ia tebal, lengket, serta berbau aspal yang terpanggang matahari. Di atas lapangan luar ruangan yang retak di Virginia, matahari seolah berada tepat di atas kepala. Sama sekali tanpa belas kasihan. 

Seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun berlari dengan langkah yang patah-patah. Napasnya memburu seperti lokomotif tua yang kehabisan uap. Di dadanya, sebuah weighted vest alias rompi pemberat hitam legam menempel erat, menekan paru-parunya, menarik bahunya ke bawah menuju bumi. 

Dari pinggir lapangan, berdiri seorang pria dengan rahang persegi dan mata yang dingin bernama Rick Brunson. Ia tidak melihat putranya dengan pandangan seorang ayah yang bangga pada akhir pekan. Ia melihatnya dengan tatapan seorang sersan yang sedang memeriksa material mentah sebelum dikirim ke garis depan. Tangannya memegang bola basket yang kulitnya mulai mengelupas akibat gesekan aspal.

“Jika kau berhenti,” ancam Rick, “bola ini terbang keluar pagar.” Suara Rick memotong udara yang pengap, kering, dan tanpa kompromi. Rick melanjutkan bahwa di NBA tidak ada jaminan kontrak untuk anak yang manja. Jadi pilihannya adalah terus berlari atau pulang saja ke pangkuan ibumu. 


Baca selengkapnya...