KETIKA Hajime Moriyasu mengumumkan 26 nama yang mengisi skuad Tim Nasional Jepang di Piala Dunia 2026, dunia melihat sebuah realitas baru, sebuah infiltrasi nyata talenta Jepang di panggung Eropa. 

Dari barisan pemain yang dibawa, hanya ada tiga nama yang merumput di liga domestik J.League. Dua di antaranya adalah penjaga gawang cadangan dan satu veteran berusia 39 tahun yang pernah lama bermain di Eropa, Yuto Nagatomo. 

Sisanya adalah para pemain yang setiap pekan mewarnai Premier League, La Liga, Eredivisie, hingga Bundesliga. Barisan pemain inilah yang membawa transfer pengetahuan kelas dunia ke dalam cetak biru permainan kolektif Jepang yang kini mulai ditakuti kekuatan-kekuatan sepak bola tradisional dunia.

Jumat lalu (26/6), Jepang lolos ke babak knockout Piala Dunia 2026 setelah bermain imbang 1-1 melawan Swedia pada laga terakhir Grup F. Hasil itu membuat Jepang menjadi negara Asia pertama dan satu-satunya dalam sejarah yang mampu mencatat hattrick lolos ke babak gugur Piala Dunia secara beruntun. 

Keberhasilan Jepang ini ditopang salah satunya karena hasil ekspor massal talenta-talentanya ke Eropa. Ini bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari rancang bangun ilmiah yang dikerjakan dengan kedisiplinan luar biasa selama berdekade-dekade.

Skuad modern Samurai Blue hari ini adalah buah manis dari manifesto berani bernama Project DNA dan filosofi Japan's Way. Dua konsep ini berhasil mengubah karakteristik khas bangsa Jepang menjadi keunggulan kompetitif di atas lapangan hijau.


Baca artikel penuh