.
Share this Post:

Carlo Ancelotti Mengajarkan Brasil Cara Menderita tanpa Kehilangan Akal Sehat

SEBUAH garis lengkung yang janggal di wajah Carlo Ancelotti adalah ringkasan terbaik untuk menggambarkan runtuhnya sebuah tabu berusia seratus tahun. 

Alis kiri pria Reggiolo itu selalu terangkat, sebuah gestur dingin yang seolah sedang mempertanyakan kegilaan spiritual sebuah negara yang menyembah sepak bola sebagai agama yang histeris. 

Di hadapannya, dogma suci yang tertulis sejak tahun 1914 perlahan menguap bersama keputusasaan para petinggi Federasi Sepak Bola Brasil.

Dari lantai atas hotel mewah di Madrid, beberapa hari sebelum ia menandatangani kontrak, Ancelotti melihat ke luar jendela. Langit Spanyol bersih dan teratur. Di hadapannya duduk para petinggi Federasi Sepak Bola Brasil (CBF), orang-orang dengan setelan jas mahal yang membawa beban dari dua ratus juta jiwa yang sedang berduka.

Brasil telah kalah di Qatar, mereka terpuruk di Copa America 2024, dan mereka baru saja dihancurkan empat gol oleh Argentina di Buenos Aires. 

Dorival Junior telah pergi. Dia diusir seperti seorang nabi palsu yang gagal mendatangkan hujan. Kini, mereka datang kepada seorang pria dari Italia berusia 66 tahun dengan alis kiri yang selalu terangkat seolah sedang mempertanyakan kewarasan dunia.


Baca selengkapnya...