.
Share this Post:

Nikolaus Joaquin, dari Raket Patah, Tarkam, hingga Rentetan Panjang Penolakan

JONI Sugio memiliki sepasang mata yang telah menyaksikan terlalu banyak dinding penolakan.

Dia tidak mengerti bulu tangkis ketika semua perjalanan panjang itu dimulai tahun 2011. Joni hanyalah seorang ayah dengan usaha yang sedang runtuh. 

Suatu sore, Joni membawa anaknya yang berusia enam tahun ke sebuah gelanggang olahraga sewaan di daerah Duri Kosambi, Jakarta Barat untuk sekadar mencari keringat.

"Kami main bego saja," kata Joni. Suaranya datar, kering, dan agak serak. "Saya tidak mengerti bulu tangkis. Kami tidak berasal dari keluarga atlet. Keluarga kami berlatar belakang akademis. Saya baru mengerti bulu tangkis setelah Joaquin latihan. Karena nungguin dia, saya jadi belajar. Diskusi sama pelatih. Saya belajar dari dia," katanya.

Joaquin yang dimaksud adalah pemain ganda putra tim nasional Indonesia, Nikolaus Joaquin. Nama Joaquin diambil Joni dari kecintaannya pada sepak bola. Sebuah nama yang mengingatkan pada pemain sayap Real Betis atau Valencia yang berlari lincah tanpa lelah di koridor kanan. 

Namun di Kosambi, di lantai Candra Wijaya Badminton Club yang berdecit, tidak ada kemewahan sepak bola Eropa. Yang ada hanya hawa panas Jakarta yang mengungkung dan aroma karet sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan.

Anak itu kecil. Terlalu kecil untuk usianya. Ajakan Joni sore itu membuat Joaquin jatuh cinta pada bulu tangkis. Namun, ia tumbuh dengan dua kekurangan utama, tubuh yang kurus dan raket yang tak pernah utuh. 


Baca selengkapnya...