.
Share this Post:

An Se-young dan Paradoks Antifragilitas: Mengapa Tekanan Justru Membuatnya Tak Terkalahkan

AN SE-YOUNG berdiri di sudut lapangan, tubuhnya membungkuk dalam. Rahangnya dikatupkan begitu erat hingga otot-otot di sekitar pelipisnya menegang, membentuk garis-garis tegas yang menyedot seluruh ekspresi mudanya.

Ia baru berusia 24 tahun, namun pada detik itu, ia terlihat seperti seorang veteran yang telah bertempur selama puluhan tahun di pertarungan-pertarungan keras level elite dunia. 

Di seberang net berdiri Chen Yufei, rival abadinya. Tunggal putri asal Tiongkok berusia 28 tahun itu selama bertahun-tahun menjadi bayangan mengerikan sekaligus guru yang membentuk karier Se-young. 

Chen Yufei sedang bersiap melakukan servis. Papan skor elektronik di beberapa sudut Istora Senayan Jakarta menyala merah, menampilkan angka yang bagi semua orang di tribun adalah sebuah vonis mati, 7 - 17,  game ketiga. 


Baca selengkapnya...