.
Share this Post:

Saat Ibu Khvicha Tak Punya Uang Bensin Pekan Ini

ANGIN dari Pegunungan Kaukasus selalu membawa aroma yang sama ke Tbilisi. Debu, sisa-sisa pembakaran gas pasca-Uni Soviet, juga aroma dingin yang keluar dari celah-celah batu. 

Di distrik Dighmis Masivi, matahari tidak pernah tampak ramah. Ia hanya berfungsi untuk menerangi barisan blok apartemen abu-abu yang berdiri kaku, seperti serdadu tua yang menolak mati. Dari bawah bayang-bayang beton itulah, pada hari-hari yang panjang di awal milenium, seorang anak kurus berkaki telanjang mempelajari hukum pertama dari gravitasi dan rasa sakit.

Nama anak itu Khvicha. Dalam bahasa Mingrelian, bahasa kuno yang dituturkan di wilayah barat Georgia tempat leluhurnya bermukim, nama itu berarti bintang yang bersinar. Namun, pada tahun 2001, tidak ada bintang di Dighmis Masivi. Yang ada hanya kemiskinan yang rapi dan kerangkeng beton yang mereka sebut cages.

Lapangan itu tidak memiliki rumput. Tidak ada rumput sintetis hijau yang empuk seperti yang biasa diinjak anak-anak di akademi Paris atau Munich. Permukaannya hanyalah semen kasar yang telah pecah di beberapa sudut dan menyisakan kerikil tajam yang siap merobek kulit lutut setiap kali seorang anak kehilangan keseimbangan. 

Khvicha bermain di sana tanpa alas kaki.

Jika kau jatuh di sana, kata Badri Kvaratskhelia kepada anaknya suatu sore, kau tidak boleh menangis. Kau hanya harus bangun dan memastikan bola itu masih milikmu.


Baca selengkapnya...