Luis Enrique, Tentang Kejujuran dan Hal-Hal Tragis dalam Hidup
KABUT pagi menggantung di Pantai San Lorenzo ketika bocah 10 tahun itu berlari mengikuti garis pasir. “Lari! Lari sampai kakimu terbakar!” teriak Luis Martinez dari kejauhan.
Keringat bercampur semburan air Atlantik membentuk rasa asin di lidah Luis Enrique. “Dari situlah saya belajar bahwa batas fisik hanyalah ilusi,” kenang Enrique puluhan tahun kemudian dalam film dokumenter biografinya, No tenéis ni **** idea
Dari pantai kecil Asturias itulah Enrique memulai perjalanannya. Dari anak biasa-biasanya saja dia bertumbuh menjadi salah seorang sosok paling berpengaruh di sepak bola dunia saat ini.
Meja makan keluarga Martinez selalu penuh cerita. Ayahnya, pegawai bank. Ibunya, Nely Garcia, adalah ibu rumah tangga. Keduanya mengukir prinsip yang sangat melekat dalam sanubari Enrique bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada piala.
Saat Enrique menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan klub kampung halamannya, Sporting Gijon B pada 1988, sang ayah membisikkan pelajaran hidup yang tak terlupakan, yakni “Jangan pernah meminjam uang dari klub.” Prinsip kesederhanaan itu kelak menjadi tameng dan kompasnya dalam mengarungi gemerlap sepak bola modern yang bisa menyesatkan.
Baca selengkapnya...