.
Share this Post:

Setiyo Budi Hartanto, Dari Kuli Cangkul, Menuju Legenda Para Aletik dan Pelatih Bertangan Dingin

EVOLUSI olahraga disabilitas di Indonesia telah memasuki fase transisi yang penting. Bergeser dari model partisipasi berbasis rehabilitasi menuju model performa tinggi yang kompetitif secara global.

Dalam situasi yang terus berubah ini, Setiyo Budi Hartanto merupakan sosok unik dalam menjembatani masa lalu sebagai atlet berprestasi dunia dengan masa depan sebagai seorang arsitek kepelatihan di National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Setiyo ditempa oleh kondisi sosio-ekonomi yang keras dengan ketahanan mental yang menjadi ciri khas karier atletiknya. Lahir pada 6 Mei 1986 di Temanggung, Jawa Tengah, Setiyo mengalami disabilitas fisik pada lengan kiri.

Setiyo tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kemandirian fisik yang ekstrem. Sebelum menapaki dunia olahraga profesional, Setiyo menjalani kehidupan sebagai pekerja kasar, termasuk menjadi kuli cangkul di kampung halamannya setelah lulus SMA pada tahun 2004. Bayaran Setiyo ketika itu adalah Rp 8.000 per hari.  

Pekerjaan fisik yang berat ini, secara tidak terduga, berfungsi sebagai periode pelatihan dasar yang membentuk kepadatan tulang dan kekuatan otot fungsionalnya. Dalam perspektif ilmu olahraga, aktivitas manual yang konsisten pada usia muda ini sering kali membangun fondasi biomotorik yang kuat.

Dalam kasus Setiyo, pekerjaan keras itu menjadi modal utama untuk disiplin lompat jauh yang memerlukan daya ledak yang tinggi. Namun, transisi dari kuli sawah menjadi atlet elite memerlukan intervensi sistemik yang tepat.

Titik balik karier Setiyo terjadi saat dia memutuskan mengikuti ajakan seorang petugas Dinas Sosial yang ingin memasukkan ke Pusat Rehabilitasi Bina Daksa dr. Soeharso di Solo, sekarang BBRSPDF Prof. Dr. Soeharso. Di sana, pada awalnya, Setiyo mengambil pendidikan fotografi. 

Institusi tersebut merupakan fasilitas medis yang dirancang menjadi ekosistem untuk mengintegrasikan kembali penyandang disabilitas ke dalam masyarakat melalui pemberdayaan bakat.

Di tempat inilah, mekanisme pencarian bakat tradisional bertemu dengan visi modern. Setiyo ditemukan oleh Abdul Aziz, seorang pemandu bakat yang mampu melihatnya mampu melampaui keterbatasan fisik.

Awalnya, Setiyo juga memiliki ketertarikan kuat pada sepak bola. Olahraga ini sempat membawanya meraih perak pada Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2004 di Palembang. Pada ajang yang sama, Setiyo berhasil meraih emas lompat jauh. 

Setelah melewati serangkaian analisis teknis, tim pelatih menyarankan Setiyo untuk fokus sepenuhnya ke atletik, khususnya lompat jauh. Alasannya, ketimpangan fisik pada satu lengan dapat dikompensasi melalui teknik lari dan tolakan yang presisi.

Keputusan untuk berpindah jalur ke atletik cepat membuahkan hasil. Pada ajang yang sama di tahun 2004, Setiyo meraih emas pertama di nomor lompat jauh. Ini adalah momen penting yang menandai lahirnya seorang atlet spesialis.

Perkawinan antara bakat mentah, ketahanan fisik hasil kerja keras di desa, dan arahan teknis yang tepat di Solo, menciptakan fondasi bagi salah seorang bakat atletik terpanjang dalam sejarah olahraga disabilitas Indonesia.

Karier kompetitif Setiyo selama 18 tahun (2004–2022) diklasifikasikan sebagai periode emas bagi nomor lompat jauh T47 Indonesia. Klasifikasi T47 merujuk pada atlet dengan gangguan pada satu anggota tubuh bagian atas. Lompat jauh sendiri menyajikan tantangan unik terkait keseimbangan udara dan momentum lari awalan. Setiyo berhasil menaklukkan tantangan fisik ini lewat konsistensi teknis yang luar biasa.

Setiyo Budi 3
Setiyo Budi Hartanto saat berlaga di ASEAN Para Games 2022. (Setiyo Budi Hartanto/Instagram)

Eksistensi Setiyo di tingkat Asia Tenggara berlangsung dengan jejak luar biasa. Sejak debut internasionalnya di ASEAN Para Games (APG) 2005 di Manila, dia mencatatkan lompatan sejauh 6,4 meter untuk meraih emas.

Dominasi Setiyo tak berhenti pada keunggulan fisik, namun kemampuannya untuk mempertahankan performa di tengah perubahan regulasi dan kemunculan pesaing baru.

Setelah konsisten berprestasi pada ajang regional, Setiyo menutup kariernya di APG 2022, Solo. Dia meraih emas dengan lompatan sejauh 6,66 meter dan mengalahkan pesaing dari Thailand dan Filipina.

Keberhasilannya meraih dua emas di Solo menutup karier atletiknya dengan cara yang puitis. Setiyo kembali ke kota di mana dia pertama kali dibina sebagai atlet disabilitas.

Kembali ke masa dia menjadi atlet, transisi karier Setiyo dari level regional ke level kontinental memberikan tekanan yang berbeda. Di sini, Setiyo harus berhadapan dengan atlet-atlet dari Tiongkok, Jepang, dan Iran yang memiliki dukungan teknologi olahraga yang lebih maju.

Namun, Setiyo tetap mampu bersaing di jajaran elite Asia. Pada FESPIC Games 2006 di Kuala Lumpur (pendahulu Asian Para Games), Setiyo meraih emas yang memperkuat statusnya sebagai atlet kelas Asia.

Pada era Asian Para Games modern, Setiyo secara reguler naik ke podium. Di Guangzhou 2010, Setiyo mendulang perunggu di tengah persaingan ketat dengan atlet tuan rumah Tiongkok. Sedangkan di Incheon 2014, Setiyo berhasil mengamankan medali perak dan perunggu, menunjukkan adaptasi terhadap cuaca dingin di Korea Selatan.

Pada APG 2018 di Jakarta-Palembang, Setiyo mencatatkan rekor pribadi terbaik di ajang internasional dengan lompatan sejauh 7,10 meter untuk meraih medali perak.

Lompatan sejauh itu merupakan menunjukkan bahwa Setiyo masih mampu mencapai performa puncak pada usia 32 tahun. Secara teknis, lompatan tersebut menempatkannya dalam jajaran sangat sedikit atlet para-atletik T47 yang mampu menembus batas 7 meter. Ini adalah standar yang biasanya hanya dicapai oleh atlet-atlet di level Paralimpiade.

Pada ajang Paralimpiade, Setiyo memang gagal meraih medali. Namun kehadirannya di tiga edisi Paralimpiade berturut-turut di London 2012, Rio de Janeiro 2016, dan Tokyo 2020 merupakan bukti bahwa dia telah berada di level elite dunia.

Partisipasi di Paralimpiade memerlukan kualifikasi yang ketat berdasarkan peringkat dunia. Setiyo sendiri konsisten berada di jajaran 10 besar dunia selama lebih dari satu dekade.

Setiyo akhirnya memutuskan pensiun setelah APG 2022 di Solo. Tetapi, keputusan ini ternyata bukan akhir dari kontribusinya tetapi awal dari fase pengabdian baru. Dia merasa bahwa usianya yang telah menyentuh 36 tahun dan tekanan fisik akibat cedera berkelanjutan telah mencapai batas maksimal untuk seorang atlet elite. Namun, jejak karier tidak dibiarkan mengering; ia justru menularkannya kepada generasi berikutnya di Pelatnas NPC Indonesia.

’’Awalnya, saya merasa bahwa menjadi atlet di usia 36 tahun sudah cukup. Ini adalah saatnya bagi saya untuk mengabdi di dunia kepelatihan. Sebagai atlet, tekanan yang dihadapi memang cukup tinggi. Apalagi ketika itu saya juga cedera. Itulah yang meyakinkan saya untuk memutuskan menjadi pelatih,” ujar Setiyo dikutip dari keterangan dari NPC Indonesia.

Sebagai pelatih, Setiyo diberi tanggung jawab untuk mengasuh lintas nomor. Ini mencakup sektor lari, lompat jauh, dan lompat tinggi. Transisi ini didukung oleh pengalamannya yang sangat tinggi di level internasional, Jadi, Setiyo mampu mengidentifikasi kebutuhan atlet tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mental dan situasional.

Visi kepelatihan Setiyo berakar pada prinsip bahwa disabilitas bukan penghalang untuk mencapai standar teknis yang setara dengan atlet non-disabilitas. Terdapat beberapa elemen kunci dalam kemampuan kepelatihannya yang kini diakui sebagai tangan dingin  dalam mencetak juara.

Pertama adalah metode latihannya adaptif. Setiyo memahami bahwa setiap atlet disabilitas memiliki mekanisme kompensasi fisik yang unik. Dia menerapkan program latihan yang sangat personal, menyesuaikan porsi latihan dengan kondisi fisik dan progres individu atlet. Setiyo tidak menggunakan pendekatan satu ukuran untuk semua, melainkan melakukan pencatatan progres yang sangat detail untuk setiap anak didiknya.

Setiyo Budi 1
Setiyo Budi Hartanto saat berdiskusi dengan atletnya di sela-sela ASEAN Para Games 2025 Thailand. (NPC Indonesia)

Kedua adalah melakukan observasi internasional dan menetapkan benchmarking. Salah satu kemampuan unggul Setiyo adalah  instingnya untuk terus belajar. Selama mendampingi atlet bertanding di luar negeri, dia secara aktif mengamati metode latihan, alat yang digunakan, hingga cara pemanasan atlet dari negara-negara dominan seperti Tiongkok. Dia mengadopsi elemen-elemen efektif dari persiapan atlet asing untuk diterapkan di Pelatnas Indonesia. Ini menjadikan Setiyo sebagai pelatih yang sangat progresif dan terbuka terhadap inovasi global.

“Saat mendampingi atlet-atlet bertanding di luar negeri itu, saya selalu mengamati apa saja yang mereka gunakan. Dari pengamatan itu, saya kemudian mengadopsinya untuk diterapkan dalam melatih para atlet. Hasilnya juga lumayan efektif,” kata Setiyo.

“Setiap kali berlaga di event internasional, saya selalu berpesan kepada para atlet bahwa mereka tidak hanya berlomba saja, tetapi juga harus menuntut ilmu. Jadi, mereka harus melihat dan mengamati atlet-atlet manapun, bagaimana persiapan mereka sebelum bertanding, termasuk ketika pemanasan,” tandasnya.

Setiyo juga melakukan pendekatan "Pelatih-Kawan". Peraih tiga emas nomor lari ASEAN Para Games 2025 Thailand Alfin Nomleni mengungkapkan bahwa Setiyo mampu membangun atmosfer latihan yang "asyik" dan menghibur di tengah kelelahan fisik yang luar biasa.

Setiyo, kata Alfin bisa  memposisikan dirinya sebagai sahabat, namun tetap menjaga kedisiplinan tinggi. Kedekatan personal ini sangat krusial untuk membangun kepercayaan diri atlet disabilitas yang sering kali menghadapi hambatan psikologis internal. Di Thailand, Alfin mendulang tiga emas pada nomor 400 meter T20, 800 meter T20, serta 1.500 meter T20.

“Saat memberi program latihan, Mas Setiyo tetap asyik. Walaupun kami merasa sangat lelah, tetapi bisa tetap terhibur. Namun, dia tetap menjaga kedisiplinan. Mas Setiyo juga tidak pernah marah kalau kami melakukan kesalahan,” kata Alfin.

Alfin mengenal Setiyo sejak 2022. Ketika itu, Setiyo masih menjadi atlet. Ketika Setiyo mulai menapaki karier baru sebagai pelatih, Alfin menjadi salah satu atlet yang diajak bergabung untuk ditempa pada 2023.

Setelah dilatih Setiyo, Alfin mengaku prestasinya mulai naik. Terutama pada ajang World Para Athletics Championship 2024 di Kobe. “Catatan waktu saya meningkat. Setelah itu saya bisa mendapatkan emas di Tunisia,” kata atlet asal NTT tersebut.

Setiyo memang dikenal oleh atletnya sebagai pelatih yang suportif. Terutama saat atlet berada di titik terendah atau merasa tertekan menghadapi lawan yang lebih kuat. Nanda Mei Sholihah, salah satu sprinter andalannya, mencatat bahwa dukungan emosional dari Setiyo sangat membantunya bangkit dari tekanan kompetisi.

Sprinter asal Kediri, Jawa Timur itu, sukses memecahkan rekor Asia dengan catatan waktu 12.39 detik di nomor 100 meter putri T47 di ajang World Para Athletics Championship 2025 yang berlangsung di New Delhi, India.

Nanda mengakui, peran besar Setiyo memiliki dampak yang signifikan terhadap performanya. Nanda dilatih Setiyo sejak tahun 2025. Pada ASEAN Para Games 2025 Thailand, atlet berusia 27 tahun ini meraih tiga perak dari nomor 100 meter putri T47, 200 meter putri T47, dan 400 meter putri T47.

“Sebagai pelatih, beliau adalah sosok yang sangat suportif. Ketika saya berada di titik terendah karena kepikiran bagaimana lawan yang dihadapi, beliau sangat membantu. Dukungannya secara emosional sangat membantu saya untuk bangkit,” ujar Nanda.

Efektivitas kepelatihan Setiyo Budi Hartanto diuji secara nyata pada ajang ASEAN Para Games 2025 di Thailand. Di bawah asuhannya, tim para-atletik Indonesia bertransformasi menjadi mesin pendulang medali yang melampaui target awal secara signifikan.

NPC Indonesia menetapkan bahwa target Para Atletik adalah meraih 25 emas. Namun, atlet asuhan Setiyo berhasil membawa pulang 44 emas atau naik 76 persen dari tujuan awal.

Catatan ini adalah bukti dari kemampuan kepelatihan Setiyo. Cabang atletik di bawah bimbingannya menjadi tulang punggung utama kontingen Indonesia, memberikan kontribusi medali terbanyak. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa strategi regenerasi yang dia dan NPC Indonesia terapkan berjalan dengan baik. Yakni ketika banyak atlet debutan mampu langsung berprestasi di level internasional.

Keberhasilan Setiyo Budi Hartanto paling nyata terlihat melalui performa individual para atlet asuhannya. Beberapa atlet utama yang berada di bawah bimbingannya telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa dalam waktu singkat.

Salah satunya adalah Nur Ferry Pradana yang berlaga di nomor lari spesialisasi T47 alias memiliki keterbatasan fisik pada satu anggota tubuh bagian atas atau lengan. Nur Ferry merupakan representasi keberhasilan transfer pengetahuan Setiyo di nomor yang sama dengan yang dia tekuni dulu.

Pada APG 2025, Nur Ferry meraih hattrick emas dengan memenangkan nomor lari 100m, 200m, dan 400m putra T47. Kemampuan Setiyo untuk memoles teknik lari Nur Ferry, yang memiliki karakteristik disabilitas serupa dengannya, terbukti sangat efektif dalam memaksimalkan momentum lari awalan dan daya tahan di lintasan.

Atlet lainnya adalah Alfin Nomleni. Alfin, atlet asal NTT yang berlaga di klasifikasi T20 (disabilitas intelektual). Dia mengalami lonjakan performa yang signifikan sejak dilatih oleh Setiyo pada tahun 2023. Alfin mencatatkan peningkatan waktu yang drastis, yang membawanya meraih tiga emas di APG 2025 untuk nomor 400m, 800m, dan 1.500m. Pendekatan Setiyo yang sabar dan menghibur sangat cocok untuk atlet klasifikasi T20, yang memerlukan instruksi yang jernih dan dukungan mental yang konstan.

Setiyo Budi Alfin 2
Alfin Nomleni meraih tiga emas pada ASEAN Para Games 2025 Thailand. (Kemenpora)

Atlet yang juga melesat bersama dengan Setiyo adalah Helin Wardina. Helin memberikan kontribusi signifikan bagi Indonesia dengan dua emas pada nomor 100m dan 200m putri T64 di APG 2025 Thailand. Keberhasilan Helin menunjukkan bahwa metodologi kepelatihan Setiyo dapat diaplikasikan lintas klasifikasi (T64 menggunakan prostesis kaki), membuktikan pemahamannya yang luas mengenai biomekanika atletik secara umum.

Setelah prestasi emas di Thailand, Setiyo saat ini sedang membangun fondasi jangka panjang bagi para atletnya. Terutama untuk bisa lolos kualifikasi dan bersaing memperebutkan medali di Paralympic Los Angeles 2028. Fokus Setiyo saat ini adalah meningkatkan volume latihan dan integrasi sport science yang lebih mendalam. (*)