Sejarah Baru bagi Olahraga Ekstrem Nasional: Perdana, Indonesia jadi Host Red Bull Cliff Diving World Series
INI adalah sejarah baru bagi dunia olahraga ekstrem tanah air. Indonesia terpilih menjadi salah satu tuan rumah kompetisi olahraga ekstrem bergengsi dunia, Red Bull Cliff Diving World Series 2026.
Bali dijadwalkan menjadi arena pembuka ajang loncat tebing akrobatik dan ekstrem internasional ini pada 20–23 Mei mendatang.
Pemilihan Indonesia sebagai lokasi laga perdana bukanlah tanpa alasan. Kekayaan lanskap alam dan kedalaman budaya lokal menjadi magnet utama bagi panitia penyelenggara internasional untuk memboyong kompetisi ini ke Bali.
Turnamen ini akan membawa para atlet elite dunia menjelajahi sisi eksotis Indonesia. Mulai dari rimbunnya hutan tropis hingga tebing-tebing curam yang menghadap langsung ke perairan Samudera Hindia.
Pertarungan sengit untuk merebut trofi King Kahekili akan dimulai di tengah rapatnya hutan tropis Air Terjun Kroya, Buleleng. Lokasi ini akan menjadi saksi dihelatnya ronde pertama dan kedua. Saat itu, para atlet diving internasional harus menyesuaikan diri dengan kolam alami dan suasana hutan yang tenang namun menantang.
Setelah menyelesaikan ronde awal di Buleleng, kompetisi akan bergeser ke arah selatan menuju lokasi yang telah mendunia karena kemegahannya yakni Pantai Kelingking di Nusa Penida, Klungkung. Di lokasi yang dikenal dengan julukan Tebing T-Rex ini, laga puncak yang penuh adrenalin akan dilangsungkan.
Para atlet akan meloncat secara akrobatik dari ketinggian ekstrem menuju perairan biru Samudera Hindia dengan panorama tebing karst yang indah sebagai latar belakangnya.
Juara bertahan tujuh kali beruntun asal Australia Rhiannan Iffland mengungkapkan antusiasmenya terhadap pemilihan lokasi ini. Atlet berusia 34 tahun itu menilai Indonesia menawarkan nilai lebih.
“Red Bull Cliff Diving telah membawa kami ke berbagai perairan eksotis di segala penjuru dunia, dari tebing-tebing yang indah sampai kolam-kolam alami yang tersembunyi. Hal yang membuat Indonesia istimewa adalah, lebih dari sekadar panorama yang menakjubkan, negara ini juga menawarkan keindahan budaya yang saya yakini akan memperkaya pengalaman cliff diving kami,” ujar Iffland dikutip dari siaran pers Red Bull Cliff Diving.
Red Bull Cliff Diving World Series bukanlah kompetisi loncat indah biasa. Para atlet akan berlomba menampilkan teknik akrobatik terbaik mereka dari ketinggian yang membuat bulu kuduk berdiri: 27 meter untuk kategori pria dan 21 meter untuk kategori putri.
Sebagai perbandingan, ketinggian ini hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan platform loncat indah tertinggi di ajang Olimpiade yang “hanya” 10 meter.
Dengan ketinggian tersebut, gaya gravitasi akan menarik tubuh para atlet hingga mencapai kecepatan jatuh sekitar 85 km per jam. Tanpa perlengkapan pelindung selain baju renang, mereka hanya memiliki waktu sekitar tiga detik di udara untuk melakukan putaran, salto, dan manuver akrobatik sebelum masuk ke air dengan posisi kaki terlebih dahulu demi keselamatan.
Tahun ini, sebanyak 24 atlet putra dan putri kelas dunia akan bersaing di Bali. Mereka berasal dari berbagai negara dengan tradisi olahraga air yang kuat, seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Romania, hingga Meksiko.
Nama-nama besar yang dipastikan hadir selain Iffland adalah Gary Hunt. Diver asal Inggris Raya itu adalah legenda hidup cliff diving dengan rekor luar biasa yakni mengantongi 80 podium dalam 104 kompetisi.
Selain itu ada pula Constantin Popovici. Atlet asal Rumania tersebut adalah memegang rekor skor tertinggi dalam sejarah kompetisi Red Bull Cliff Diving World Series.
Pemerintah daerah menyambut hangat kehadiran ajang ini sebagai strategi memperkuat sport tourism. Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra menegaskan bahwa gelaran ini adalah momentum besar bagi pariwisata Indonesia pasca-pandemi.
“Ajang ini sekaligus menjadi tonggak bagi Indonesia, khususnya Bali, agar terus mengembangkan wisata olahraga alam sebagai daya tarik pariwisata negeri ini. Pulau Dewata siap menyuguhkan pengalaman luar biasa untuk para atlet dan seluruh kru Red Bull Cliff Diving yang datang dari berbagai penjuru dunia,” ucap Tjokorda.
Mengingat tingkat risiko dan kompleksitas teknis yang tinggi, Red Bull telah menggandeng TNI Angkatan Laut sebagai mitra strategis. Dukungan dari TNI AL mencakup berbagai aspek vital, mulai dari koordinasi teknis di perairan, pengamanan operasional di lokasi terpencil, hingga kesiapsiagaan fase persiapan hingga hari H kompetisi. Sinergi ini bertujuan memastikan Indonesia sukses menjalankan peran sebagai tuan rumah perdana di kancah dunia olahraga ekstrem ini.
Red Bull Cliff Diving World Series, yang resmi dimulai pada tahun 2009, memiliki akar dari sejarah dan tradisi kuno. Olahraga ini terinspirasi dari kisah Raja Kahekili di Hawaii pada abad ke-18. Sang raja melegenda karena keberaniannya meloncat dari tebing sakral Kaunolu untuk membuktikan keberanian dan kesetiaannya.
Hingga saat ini, trofi yang diperebutkan para atlet menyandang nama sang raja sebagai penghormatan terhadap tradisi tersebut.
Di Bali nanti, lima orang juri internasional akan memberikan penilaian berdasarkan teknik, keindahan gerakan di udara, serta ketepatan posisi saat menyentuh permukaan air. Setiap kategori gender terdiri dari 8 atlet permanen dan 4 atlet wildcard yang siap memberikan kejutan di setiap seri.
Selain soal speed ekstrem yakni atlet mencapai kecepatan 85 km/jam dalam waktu kurang dari 3 detik setelah melompat, saat menyentuh air tubuh atlet mengalami perlambatan yang sangat cepat. Ini setara dengan tekanan yang diterima tubuh saat mengalami kecelakaan mobil ringan.
Sementara itu, dalam soal kedalaman air dibutuhkan minimal lima meter karena atlet akan meloncat dari ketinggian 27 meter. Kedalaman 5 meter memberikan jarak yang cukup bagi air untuk menyerap energi kinetik atlet. Selain itu, kedalaman tersebut menghentikan laju tubuh secara aman sebelum menyentuh dasar perairan.
Tidak seperti olahraga ekstrem lainnya, atlet Red Bull Cliff Diving hanya menggunakan baju renang standar tanpa pelindung tubuh lainnya.
Dengan segala kemegahan alam Bali dan dukungan penuh dari berbagai pihak, seri pembuka Red Bull Cliff Diving World Series 2026 di Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu episode paling ikonik dalam sejarah panjang kompetisi ini. (*)