.
Share this Post:

Melesat di Usia 15 Tahun, Intan Cahaya Putri adalah Permata Baru Boccia Indonesia

BOCCIA adalah olahraga yang kejam dalam keheningannya. Setiap lemparan bola adalah hasil dari kalkulasi mekanis tubuh, kontrol emosi yang luar biasa, dan penguasaan teknik yang presisi.

Kontrol emosi ini yang membuat Gischa Zayana, 20 tahun, sangat istimewa. Meski masih muda, Gischa telah mencicipi atmosfer panggung-panggung terbesar di dunia. Dia tahu benar bagaimana memanipulasi ruang, bagaimana menempatkan bola-bola merahnya sedemikian rupa, bagaimana menutup akses lawan menuju sasaran.

Namun, lawan Gischa di final kelas BC2 ASEAN Para Games 2025 Thailand, Intan Cahaya Putri tidak datang ke Thailand untuk menjadi figuran dalam pesta seniornya. Remaja 15 tahun ini punya status sebagai juara Asia junior 2025. Dan dia terus membalas setiap siasat dan tindakan Gischa, pemain nomor dua dunia itu, dengan keberanian luar biasa. 

Nervous banget sebenarnya kalau main sama Mbak Gischa. Awalnya saya sudah ketemu di penyisihan dan skornya kalah tipis 2-3. Jadi saat bertemu di final, saya nervous banget. Bagi saya Mbak Gischa adalah lawan terberat. Tetapi kalau melawan yang lain saya nggak nervous dan bisa enjoy,” kata Intan.

Meski sangat gelisah sepanjang pertandingan, Intan memberikan perlawanan yang luar biasa. Sejak awal, pertandingan berlangsung sangat intens. Gischa yang lebih berpengalaman tidak mudah menundukkan juniornya itu. Skor sempat sama kuat 1-1 pada akhir babak kedua. Intan memberikan perlawanan yang sangat keras, memaksa Gischa untuk mengerahkan seluruh kemampuan analisisnya. 

Pada akhir babak ketiga, Gischa unggul 4-1. Meski tertinggal jauh dan dengan perasaan yang berkecamuk, Intan tetap berusaha untuk mengeluarkan semua yang dia biasa. Babak keempat berlangsung sangat seru. Namun, Intan hanya berhasil menambah dua poin dan kalah tipis 3-4. Gischa meraih emas. Sedangkan Intan mendapatkan perak, medali pertamanya pada multievent senior internasional. 

“Walau kalah saya seneng banget, nggak nyangka bisa dapat perak. Sebelum berangkat ke Thailand saya sempat berpikir, bisa nggak ya dapat medali. Ternyata saya bisa dapat perak dan bermain melawan Mbak Gischa di final. Saya cukup puas karena bisa mengimbangi Mbak Gischa,” ucap Intan.  

Selisih satu poin yang sangat tipis di final ini seakan menjelaskan satu hal bahwa sang junior hanya butuh sedikit waktu lagi untuk benar-benar melompati sang senior.

Intan Cahya 3
Intan (kiri) saat berlaga melawan Gischa di final individual Boccia BC2 ASEAN Para Games 2025. (APSF TV) 

Perjalanan Intan menuju podium internasional bermula dari sebuah ketidaksengajaan di bangku sekolah. Dua tahun lalu, pada usia 13 tahun, seorang guru sekolah di MTSN 6 Karanganyar memperkenalkannya pada Boccia. "Awalnya saya bingung, lalu nyoba-nyoba lempar bola. Ternyata saya suka, saya penasaran bagaimana bisa main seperti itu," kenang Intan. 

Rasa penasaran itu berubah menjadi prestasi kilat. Hanya beberapa bulan berlatih di NPC Karanganyar, Intan lolos dalam seleksi masuk tim Jawa Tengah yang akan berlaga di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024. Pada ajang nasional pertamanya itu, Intan menyabet emas nomor beregu campuran bersama atlet senior Felix Ardi Yudha, 32 tahun, dan perak nomor individu. Pada final individu, Intan kalah telak dari Gischa.

 *

Boccia saat ini bertransformasi dari sekadar aktivitas rekreasional bagi penyandang disabilitas berat seperti Gischa dan Intan menjadi disiplin olahraga prestasi yang menuntut rigiditas teknis, kecerdasan taktis, dan ketahanan psikologis tingkat tinggi. 

Dalam ekosistem olahraga paralimpik di Indonesia, boccia menempati posisi yang unik. Sebab olahraga ini memang ditujukan khusus bagi individu dengan gangguan motorik berat, terutama yang disebabkan oleh cerebral palsy

Di tengah upaya regenerasi atlet yang dilakukan oleh National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, muncul sosok Intan. Dia adalah atlet remaja yang dalam waktu singkat berhasil menembus hierarki elit nasional dan internasional.

Intan saat ini berkompetisi pada kategori BC2. Ini adalah kelas yang secara teknis menantang. Sebab, atlet yang berlaga pada kelas BC2 memiliki kontrol motorik yang cukup untuk melempar bola tanpa alat bantu. Tetapi, memang tetap memiliki keterbatasan fungsi trunk dan koordinasi anggota gerak.

Klasifikasi dalam boccia merupakan proses medis dan teknis yang kompleks. Atlet dievaluasi berdasarkan kekuatan otot, jangkauan gerak, dan kemampuan koordinasi. Kategori BC2, tempat Intan bernaung, biasanya dihuni oleh individu dengan cerebral palsy yang menunjukkan gejala hipertonia, atetosis, atau ataxia.

Sebagai atlet BC2, Intan harus mengandalkan kekuatan fisik mandiri untuk melontarkan bola kulit seberat 275 gram dengan presisi milimeter. Kemampuannya untuk tetap stabil di atas kursi roda sambil melakukan gerakan ayunan yang konsisten merupakan hasil dari latihan fisik yang intensif.

Kelas BC2 sering kali menjadi nomor dengan tingkat kompetisi paling dinamis karena kecepatan bola yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan kategori lainnya.

Menjadi atlet nasional pada usia belia menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Intan harus berjibaku dengan rutinitas fisik yang menguras tenaga. Intan beruntung mendapatkan paparan terbaik karena berada di Jawa Tengah. Sebab, Jawa Tengah telah membangun ekosistem boccia yang paling maju di Indonesia. 

Intan masuk ke dalam sistem ini dan mulai berlatih di Surakarta, yang juga merupakan pusat kegiatan paralimpik nasional. Di sini, dia berada dalam atmosfer dan metodologi latihan yang sistematis. Keberhasilan Intan menembus tim utama Jawa Tengah untuk ajang nasional adalah langkah awal yang krusial sebelum dia ditarik oleh tim nasional senior.

Titik balik karier internasional Intan terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab dalam ajang Asian Youth Para Games 2025. Di kejuaraan itu, Intan berhasil meraih medali emas, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kualitas teknisnya berada di atas rata-rata atlet seusianya di tingkat Asia. Sebelumnya, Intan juga meraih emas nomor tim di World Abilitysport Youth Games 2024, Thailand. 

Emas ini menjadi justifikasi tak terbantahkan bagi staf pelatih tim nasional untuk memasukkan namanya ke dalam skuad senior yang dipersiapkan untuk ASEAN Para Games 2025.

Saat masuk tim nasional, Intan harus menguras tenaga dan fokus. Dia menghadapi hari-harinya dengan berlatih dengan sangat keras, disiplin, dan sistematis. 

Sejak pagi pukul 09.00 WIB, Intan memulai harinya di pelatnas dengan latihan beban. Bentuknya adalah menarik karet dan angkat barbel. Aktivitas latihan berlangsung sampai jam 10.00 WIB. Setelah itu selama dua jam mulai pukul 10.00 WIB sampai 12.00 WIB, Intan berlatih melempar bola dengan empat jarak variatif yakni 3 meter, 5 meter, 7 meter, dan 9 meter.

Istirahat siang diberikan pada 12.00 WIB sampai 13.00 WIB. Pasca itu pada pukul 13.00 WIB sampai 14.00 WIB, Intan berlatih lagi soal tactical analyst. Jadwal latihan tersebut berlangsung rutin mulai Senin sampai Kamis. 

Jumat, masih ada jadwal latihan mulai pukul 08.00 WIB sampai 11.00 WIB. Tetapi seluruh latihan berupa game. Sabtu, program dibuat sedikit santai yakni hanya berlatih beban atau refreshing contohnya dengan berkeliling di Stadion Manahan, Solo. “Sedangkan Minggu full istirahat,” jelas Intan.   

Latihan beban dan tarikan karet bertujuan untuk memperkuat otot tangan. Lalu, latihan bola dilakukan sebanyak 300 kali lemparan. Tujuannya adalah untuk mengasah akurasi.

"Paling sulit itu latihan setiap hari dari pagi sampai sore. Dulu belum terbiasa, rasanya menguras fisik banget," kata Intan. Namun, di tengah peluh, dia tak melupakan kewajibannya sebagai pelajar kelas 9. "Kalau latihan jam 9 pagi sampai sore, malamnya saya lanjut mengerjakan tugas sekolah," imbuhnya.

Kegigihan ini membuahkan hasil manis di Thailand. Menghadapi lawan-lawan tangguh, termasuk senior sekaligus rekan senegaranya, Gischa Zayana, Intan tampil mengejutkan. Meski kalah tipis 3-4 di laga final, raihan medali perak tersebut terasa seperti kemenangan besar.

Pelatih Pelatnas Boccia Indonesia Muhammad Bram Riyadi melihat Intan sebagai aset besar masa depan Indonesia. Menurutnya, Intan memiliki stabilitas progres yang sangat baik, terutama dalam teknik placement atau menempel bola pada sasaran bola putih alias Jack.

"Basic permainannya sangat kuat. Dia bisa menempel Jack dengan presisi, menutup arah lawan, dan memberikan tekanan mental bagi musuh. Jika lawan mencoba menutup ruang, Intan punya kemampuan untuk membuka ruang bola itu kembali," jelas Bram.

“Melihat prestasi dan potensinya, Pelatih Kepala Boccia Indonesia, Pak Islah (Islahuzzaman Nuryadin), melihat Intan sangat bisa didorong dan dilatih untuk setara dengan atlet-atlet elite dunia," tambah Bram.

Namun, Bram tetap menekankan pentingnya penguatan fisik. "PR-nya masih banyak. Untuk teknik broker dan smash otot-ototnya harus terus dikuatkan melalui latihan beban agar daya ledaknya lebih maksimal," imbuh Bram.

Bram juga memuji manajemen mental Intan saat bertanding di luar negeri. Untuk mengatasi kegugupan, Intan rutin melakukan simulasi pertandingan dan menjaga fokus diri.

"Tetapi kami harus menjaga keseimbangan antara mendorong kekuatannya dan mencegah overtraining atau cedera. Intan luar biasa karena dia bisa menikmati proses itu. Konsistensi dalam drill harian inilah yang terbawa kepada kematangan mental saat pertandingan," ucap Bram.

Bagi Intan Boccia adalah kendaraan menyenangkan yang membawanya melintasi batas negara dan keterbatasan diri. "Besar banget artinya, saya bisa sampai ke banyak negara karena Boccia ini," tuturnya.

Dukungan penuh dari orang tua, guru, dan teman-teman sekolah yang setia menyemangati via pesan singkat sebelum pertandingan menjadi kekuatan tambahan baginya. 

Intan merasa sangat dekat dengan teman-temannya. Dia merasa sangat didukung, tidak pernah dirisak karena kondisi fisiknya. Support mereka membuat Intan semakin bersemangat.

“Perak ini saya persembahkan untuk Indonesia. Untuk NPC Indonesia karena bisa membawa saya berada di titik ini. Lalu buat sekolah, guru yang mengenalkan boccia kepada saya. Juga kepada teman-teman. Lalu kepada orang tua yang mengantarkan saya berlatih dan bertanding ke banyak tempat,” katanya. 

Intan Cahya 1
Intan mendapatkan dukungan penuh dari guru dan teman-teman sekolahnya di MTsN 6 Karanganyar. (Dok Intan Cahaya Putri)

Kini, setelah merasakan atmosfer kompetisi internasional, target Intan semakin tinggi. Dia membidik satu titik di cakrawala yakni Paralympic Los Angeles 2028.

Tetapi sebelum ke sana, tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan oleh NPC Indonesia bagi Intan adalah podium di Asian Para Games 2026 yang akan berlangsung di Nagoya, Jepang. Keberhasilan di level Asia akan menjadi indikator utama apakah Intan siap bersaing dengan atlet-atlet papan atas dunia dari Korea Selatan atau Tiongkok.

Lebih jauh lagi, sama seperti ambisi Intan, tim pelatih Indonesia menargetkan Intan untuk lolos kualifikasi Paralympic Los Angeles 2028. Strategi kualifikasi ini melibatkan pengumpulan poin di berbagai seri kejuaraan dunia misalnya Boccia World Challenger dan World Cup.

Keberhasilan Intan yang melesat pada usia belasan tahun diharapkan menjadi cetak biru bagi pengembangan atlet disabilitas lainnya di Indonesia. Beberapa poin penting dalam roadmap ini meliputi identifikasi dini yakni memperkuat jejaring antara NPC daerah dengan SLB dan sekolah untuk menemukan bakat-bakat seperti Intan pada usia sekolah dasar atau menengah pertama.

Hal kedua yang tak kalah penting adalah akselerasi kompetisi. Pertandingan-pertandingan lokal akan memberikan kesempatan bagi atlet muda berprestasi untuk bertanding di level senior sesegera mungkin untuk memperpendek kurva pembelajaran.

Intan Cahya 2
Intan (dua dari kiri) bersama Wiyanto (ayah), Karni (ibu), dan Okta Cahyo Nugroho (kakak). (Dok Intan)

Selain itu, perlu juga dukungan pada aspek sains olahraga. Penting sekali memakai data biomekanika dan psikologi olahraga untuk mendukung performa atlet dengan disabilitas berat.

Kepada sesama remaja yang memiliki keterbatasan fisik, Intan sendiri menitipkan pesan sederhana namun bertenaga: "Paling penting jangan menyerah, semangat, dan berjuang terus. Disiplin dalam berlatih dan konsisten. Saya suka main boccia, saya penasaran, dan akhirnya saya bisa sampai di sini," tandasnya. (*)