.
Share this Post:

Gaya Klasik dan Ekosistem Kompetitif Kampus Amerika yang Membentuk Janice Tjen

TENIS modern saat ini kerap didominasi oleh kekuatan tradisional dari Eropa dan Amerika Utara. Jadi, kemunculan Janice Tjen seakan menjadi penanda adanya kebangkitan bagi tenis Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Lahir di Jakarta pada 6 Mei 2002, Janice melakukan akselerasi karier yang luar biasa dan sangat-sangat jarang terjadi di Indonesia. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 bulan, Janice mencatat transisi cepat dari sirkuit perguruan tinggi Amerika Serikat (NCAA) menuju level atas tur profesional putri (WTA).

Per 20 Januari 2026, Janice menduduki ranking 46 dunia, tertinggi dalam kariernya. Padahal, pada akhir tahun 2024, Janice hanya berada di posisi 578 dunia. Kenaikan sangat drastis ini sejatinya merupakan hasil fondasi teknis yang dibangun selama empat tahun di University of Oregon dan Pepperdine University. Ini ditambah dengan penerapan metodologi kepelatihan berbasis data di bawah bimbingan pelatih asal Inggris Christopher Bint.

Nilai penting Janice bagi tenis dan olahraga Indonesia lebih dari pencapaian individual. Kemenangannya di Chennai Open 2025 mengakhiri puasa gelar tunggal WTA Indonesia yang telah berlangsung sejak Angelique Widjaja melakukannya pada 2002.

Lebih jauh lagi, kemenangannya atas petenis Kanada Leylah Fernandez di grand slam Australian Open 2026 menandai milestone baru bagi Indonesia. Janice menjadi petenis tunggal Indonesia pertama yang meraih kemenangan di Melbourne Park dalam 28 tahun terakhir. Dia mengikuti jejak Yayuk Basuki yang pernah menorehkan kemenangan di Australian Open 1998.

Janice sendiri lahir dari sebuah akar pembinaan yang solid. Berbeda dengan banyak petenis prodigy yang meninggalkan sekolah formal pada usia belasan tahun untuk berlatih di akademi-akademi top Eropa, Janice mengambil jalur yang berbeda. Tapi ternyata pilihan tersebut merupakan jalan yang lebih terukur dan terbukti memberikan hasil strategis.


Baca selengkapnya...