.
Share this Post:

Wawancara Eksklusif dengan Liliyana Natsir: Sejak Kecil, Saya Nggak Mau Kalah!

LILIYANA Natsir lahir dengan karakter yang sangat membara. Dia teramat benci dengan kekalahan. Kebencian tersebut begitu merasuk ke dalam tulangnya hingga membuat Butet---panggilan Liliyana Natsir---menjadi bocah yang sangat keras kepala.

Pada usia 7 tahun, saat masih di Manado, Butet kecil bisa sangat jengkel jika kalah dalam sebuah permainan tenis meja melawan saudaranya. Butet akan memaksa kerabatnya itu untuk terus bermain, lagi, lagi, dan lagi, hingga dia menang.

Jika saudaranya tidak mau melayani permintaan untuk kembali bermain, maka Butet akan menangis sekeras-kerasnya. Butet baru merasa puas dan mau berhenti jika dia berhasil memenangkan pertandingan.

Sifat orang tentu saja bisa berubah seiring laju usia. Jadi, Butet mengaku beruntung bahwa gelora kebencian pada kekalahan itu tetap bertahan dalam jiwanya hingga dia dewasa.

Watak inilah yang membantu Butet untuk berlatih lebih keras agar tak lagi merasakan getir kekalahan. Membantunya untuk menjadi pemain ganda campuran legendaris dunia. Membantunya untuk menjadi perempuan Indonesia kedua dalam sejarah setelah Susy Susanti, yang terpilih dalam daftar sangat elite, Badminton Hall of Fame.

Kepada Ainur Rohman, Butet bercerita tentang banyak hal. Dia berkisah tentang relasi tidak harmonis dengan partnernya, Tontowi Ahmad, jelang Olimpiade Rio 2016. Dia juga menggambarkan cara dalam mengatasi kebuntuan komunikasi sehingga berhasil mencapai puncak tertinggi: emas Olimpiade.


Baca selengkapnya...